Konservator cilik
Diposting oleh Karang Api • 20 Jun, 2007 • Kategori: KegiatanSELAMATKAN ALAM NEGRI 24
Konservator Cilik
Tepat jam 9:30 pagi ketika sebuah minibus dan mobil angkot sewaan SDIT tiba di Nongsa kampong, dimana akan diadakan mata pelajaran sains. Kali ini mata pelajaran sains yang biasa diadakan dikelas akan dibuat lain dengan pengajaran di lapangan. Bekerja sama dengan SDIT Ulil Albab, Octopus Diving Club, divisi SAR dan divisi Konservasi terumbu karang dan hutan bakau mengadakan pengajaran singkat tentang keselamatan diri dan penyelamatan alam.
Setelah berbaris rapih 30 orang anak dipimpin langsung oleh ibu wali kelas, Kepala sekolah - ibu Desy, dan pak guru, membuka acara dengan berdoa bersama dan dilanjutkan dengan beramah tamah dengan bapak Abbas sofyan, tetua kampong Nongsa. Pada acara berdoa bersama ini team dari ODC sempat gugup menghadapi para hafidzin/hafidzah kecil, didepan mereka mau baca doa apa coba ? ( doa naik kendaraan aja sampe sekarang nggak apal tuh.. he he bikin malu )
Kemudian mereka duduk dengan rapi di atas terpal yang digelar dibawah pohon besar yang rimbun, untuk belajar bersama ODC. Kali ini materi yang diberikan tentang kecelakaan tenggelam yang sering terjadi pada anak-anak, baik itu di kolam ataupun di pantai. Secara singkat diterangkan bahwa tidak ada peralatan pelampung yang aman 100%, tetapi satu-satunya cara apabila tidak ingin anak-anak tenggelam adalah kemampuan berenang. Diterangkan juga bahaya lain akibat adanya pasang surut, air dapat bergerak menuju area-area yang berbahaya, dan palung laut dan secara mudah tingkat kedalaman suatu area laut dapat di pelajari dari warna. Semakin gelap, maka laut diarea tersebut semakin dalam. Bahaya yang lain adalah heat stroke dan dehidrasi akibat cuaca terlalu panas, tidak menggunakan topi atau payung pelindung dan kurang minum. Bila pingsan di darat kan bisa tergeletak di lantai, tapi kalau di laut, pingsan ya tenggelam lah, walaupun di air dangkal sekalipun. Jadi ketika cuaca paling panas dan sinar Ultra violet paling tinggi jam 11:00 - 13:00 diusahakan anak kecil tidak beraktivitas di laut ( hebatnya si Nadya kecil tahu loh ! ) Dan yang paling penting, 95% korban anak kecil meninggal karena terlewat dari perhatian orang dewasa.
Hewan berbahaya di laut yang diterangkan yaitu cone shell dan ular laut, yang tentu saja, sama seperti binatang lain, mereka hanya melakukan pembelaan diri sehingga dengan terpaksa menyerang manusia yang dengan ceroboh memasuki area mereka tinggal. Karang api hanya tersenyum saja ketika di protes seorang anak, “om pelit, saya nggak boleh pegang ularnya “, dia tidak tahu walaupun ular yang dipegang bukan ular laut ( yang super berbisa ) tetap saja tangan sudah keringat dingin karena ular yang kemungkinan berbisa umur 1 bulan itu mulai menggeliat marah. Kelingking yang digigit sayang dua minggu lalu saja masih bengkak dan berdenyut sakit.
Rasa capek Karang api, Dugong, sting ray dan Dodi dari team ODC, dalam menyiapkan bahan pelajaran dan merangkainya dalam bentuk permainan agar berbagai materi bisa diserap dengan baik luruh ketika melihat antusias anak-anak dengan gumaman-gumaman lucu. Kegiatan mata pelajaran ini ditutup dengan penerangan apa itu terumbu karang, bagaimana pholyps bekerja sama dengan algae membentuk benteng dan bisa mati dengan mudah akibat sampah yang kita buang. Sementara terumbu karang yang baik menghasilkan rumah ikan dan makanan bagi mereka. Kehancuran terumbu karang ini bisa dirasakan ketika tangkapan ikan semakin berkurang, dan para nelayan dengan terpaksa berjuang lebih keras, lebih jauh ketengah laut hanya untuk mendapatkan hasil yang jauh lebih sedikit. Ketika dari tadi team ODC berhasil membuat anak-anak ini tertegun, team ODC kembali terbeliak ketika Nadya kecil tahu bahwa terumbu itu adalah hewan phollyps dan tanaman algae yang bekerja sama dalam bentuk simbiose mutualisme.
Tidak terasa, jam pelajaran sudah selesai, padahal sesi menanam pohon buah belum terlaksana, jadi ya terpaksa, pak Abbas yang menanamkan sendiri pohon sumbangan ODC. Bahkan makan siangpun terpaksa mereka lakukan di dalam bus atau dimakan nanti disekolah. Pak Abbas yang memperhatikan acara dari awal sempat terheran-heran melihat tingkah laku anak-anak ini yang dia nilai sangat berbeda, “Aneh ya, mereka begitu rapih mau baris, duduk dengan tenang mendengarkan cerita kita, tidak seperti anak-anak lain yang tidak bisa duduk tenang dan bisanya buat onar”
Sementara buat kami para anggota ODC , acungan jempol buat ibu/pak guru, karena tugas “mendiamkan” murid dengan dongengan selama 3 jam saja sudah sulit, apalagi mereka yang harus bertugas berjam-jam setiap harinya ya ? dan untuk anak-anak SDIT ini, yang bukan hanya pak Abbas saja, kami pun terheran-heran mereka sudah tahu apa itu pholyps dan algae, simbiose mutualisme ( perasaan gw baru tahu itu setelah SMA .. ) apa itu dehidrasi dan heat stroke ! - wah hebat.. pantes saja diantara mereka ada yang jadi bintang pelajar tingkat KEPRI yach ? dan pr buat kami, semoga pada pertemuan selanjutnya kita sudah bisa memimpin doa
- sampai ketemu lagi para konservator kecil !
Karang api, Dugong, sting ray adalah nautical name dari anggota ODC yang tidak mau disebut namanya
reposted Sep 2008 by BH; previously posted in octopusdive.blogspot.com in April 2007.
...

